Minggu, 03 Februari 2013

ARTI KATA "MUSIBAH"


Kata "musibah" berasal dari bahasa Arab yang berarti setiap kejadian yang tidak disukai. Dalam kamus besar bahasa Indonesia disebutkan bahwa musibah ialah kejadian / peristiwa menyedihkan yang menimpa. Dalam hadits riwayat Bukhari rhm dan Muslim rhm dinyatakan sabda Rasulullah SAW yang menyebutkan sejumlah jenis musibah, antara lain: rasa lelah, sakit, resah, sedih, derita, galau, hingga tertusuk sebuah duri sekali pun.
Kata "Musibah" di dalam Al-Qur'an disebut secara eksplisit sebanyak sepuluh kali, yaitu : QS.2.Al-Baqarah : 156, QS.3.Aali 'Imraan : 165, QS.4.An-Nisaa : 62 dan 72, QS.5.Al-Maa-idah : 106, QS.9.At-Taubah : 50, QS.28.Al-Qashash : 47, QS.57.Al-Hadiid : 22, QS.42.Asy-Syuura : 30 dan QS.64.At-Taghaabun : 11. Sedang secara implisit sangat banyak sekali.
SEBAB MUSIBAH
Sebab terjadinya suatu musibah ada dua macam : Pertama, sebab rasional yaitu sebab yang bisa terdeteksi dengan indera jasmani dan mudah dicerna secara rasional. Sebab macam ini seperti longsor akibat penggundulan hutan, banjir akibat buang sampah sembarangan, kering akibat habisnya lahan serapan air, kebakaran hutan akibat buang rokok atau membuat api sembarangan di hutan saat musim kemarau, dan sebagainya. Sebab macam inilah yang telah diinformasikan Allah SWT melalui firman-Nya dalam QS.30.Ar-Ruum: 41 yang terjemahannya: "Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)."
Kedua, sebab supra rasional yaitu sebab yang hanya terdeteksi dengan indera rohani dan tidak mudah dirasionalisasikan. Sebab macam ini seperti musibah yang datang akibat merajalelanya kemunkaran, kedurhakaan, kedurjanaan, kezaliman, ketidak-adilan, kesewenangan, dan aneka perbuatan ma'siat lainnya. Sebab macam inilah yang telah diinformasikan Allah SWT melalui firman-Nya dalam QS.28.Al-Qashash: 59 yang terjemahannya: "Dan tidak adalah Tuhanmu membinasakan kota-kota, sebelum Dia mengutus di ibukota itu seorang rasul yang membacakan ayat-ayat Kami kepada mereka; dan tidak pernah (pula) Kami membinasakan kota-kota; kecuali penduduknya dalam keadaan melakukan kezaliman."
Sebab macam pertama diterima oleh semua orang, baik mu'min mau pun kafir, karena dengan mudah bisa dicerna oleh akal dan dideteksi oleh indera jasmani siapa pun. Secara ilmu pengetahuan modern pun mudah dibuktikan. Sedang sebab macam kedua hanya diyakini dan diterima oleh orang yang beriman saja. Tanpa iman sulit orang untuk mempercayainya, karena tidak sembarang akal bisa mencernanya dan tidak sembarang indera dapat mendeteksinya, serta ilmu pengetahuan modern pun sering tidak bisa mengurainya.
BERKAH DAN MUSIBAH
Orang beriman pasti percaya dengan janji dan ancaman Allah SWT. Dalam QS.7.Al-A'raf : 96, Allah SWT menyatakan janji dan ancaman-Nya berkaitan dengan perilaku manusia yang bisa mengundang keberkahan mau pun musibah, yang terjemahannya sebagai berikut: "Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya."
Jadi, janji Allah SWT jelas dan ancaman-Nya juga tegas. Barangsiapa beriman dan bertaqwa maka berarti mengundang berkah. Dan barangsiapa inkar dan ma'siat maka berarti mengundang musibah.  Iman dan Taqwa itu adalah kunci keberkahan di dunia dan akhirat. Sedang inkar dan ma'siat itu adalah kunci musibah di dunia mau pun akhirat.
Segala keberkahan datang dari Allah SWT, dan segala musibah datang sebagai akibat dari perbuatan manusia sendiri. Dalam QS.4.An-Nisaa' : 79, Allah SWT berfirman: "Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja yang menimpamu maka dari (kesalahan) dirimu sendiri."
Itu pun sudah banyak kesalahan yang dimaafkan oleh Allah SWT, sehingga dengan rahmat-Nya banyak azab tidak diturunkannya. Dalam QS.42.Asy-Syuuraa : 30, Allah SWT berfirman: "Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)."
Selain ayat-ayat Al-Qur'an di atas yang mengaitkan ma'siat dengan musibah, banyak sekali Hadits Nabi SAW yang menerangkan tentang kaitan musibah dengan aneka kemunkaran dan kema'siatan. Semua keterangan Rasulullah SAW sangat gamblang dan jelas, mudah dipahami oleh siapa pun yang memiliki iman dan taqwa kepada Allah SWT.
MUSIBAH KAPAN DAN DIMANA SAJA
Musibah bisa datang kapan saja tanpa diduga, pagi dan siang mau pun malam, sebagaimana Allah SWT nyatakan dalam QS.7.Al-A'raf : 97-99, yang terjemahannya sebagai berikut: "Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur ?
Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain ? Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga) ? Tiada yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang merugi."
Dan musibah bisa terjadi dimana saja dan dengan cara bagaimana pun, juga tanpa diduga, sebagaimana Allah SWT berfirman dalam QS.16.An-Nahl : 45-47 yang terjemahannya sebagai berikut: "Maka apakah orang-orang yang membuat makar yang jahat itu, merasa aman (dari bencana) ditenggelamkannya bumi oleh Allah bersama mereka, atau datangnya azab kepada mereka dari tempat yang tidak mereka sadari, atau Allah mengazab mereka di waktu mereka dalam perjalanan, maka sekali-kali mereka tidak dapat menolak (azab itu), atau Allah mengazab mereka dengan berangsur-angsur (sampai binasa). Maka sesungguhnya Tuhanmu adalah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang."
Dan musibah pun bisa datang dalam aneka bentuk dan jenis, pun tanpa dikira, sebagaimana Allah SWT berfirman dalam QS.29. Al-'Ankabuut: 40, yang terjemahannya sebagai berikut: "Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil, dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri."
MUSIBAH DAN UMAT TERDAHULU
Dalam hadits riwayat Abu Daud rhm yang bersumber dari Ibnu Mas'ud ra, bahwa Nabi SAW mengabarkan: "Sesungguhnya awal mula masuknya kekurangan (terjadinya kesalahan) ke dalam Bani Israil adalah dahulu seseorang (yang baik) bertemu dengan orang lain (yang berbuat buruk) seraya berkata :"Hei orang ini, takutlah kepada Allah ! Dan tinggalkanlah apa yang kamu lakukan, sesungguhnya itu tidak halal bagimu !" Kemudian keesokan harinya dia (bertemu lagi dengan orang itu), namun tidak lagi ia melarangnya, bahkan dia justru menjadi teman makan, minum dan duduknya. Maka tatkala mereka lakukan yang demikian itu, Allah SWT pun mencap (menghitamkan) hati sebagian mereka (yang baik) dengan sebab sebagian mereka (yang buruk)."
Selanjutnya, Nabi SAW membacakan firman Allah SWT dalam QS.5.Al-Maa-idah : 78-79, tentang nasib umat terdahulu akibat dari kemunkarannya, yang terjemahan firman-Nya SWT sebagai berikut: "Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putera Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu."
Setelah itu, Rasulullah SAW bersabda kembali: "Sungguh, Demi Allah, hendaknya engkau benar-benar menyerukan yang ma'ruf dan benar-benar mencegah yang munkar, serta sungguh-sungguh menentang tangan-tangan orang zalim, dengan benar-benar mengembalikannya ke jalan yang Haq, dan benar-benar menjaganya di jalan yang Haq."
HAKIKAT MUSIBAH
Hakikat Musibah ada tiga macam, yaitu : Pertama, Musibah sebagai UJIAN, yaitu musibah yang menimpa orang-orang beriman yang soleh. Musibah tersebut untuk menguji iman dan keyakinannya kepada Allah SWT. Jika dia hadapi tetap dengan Syukur dan Sabar, maka ujian tersebut akan menjadi pensuci diri dan pengangkat derajatnya di sisi Allah SWT. Setiap orang beriman pasti akan diuji oleh Allah SWT sebagaimana firman-Nya dalam QS.29. Al-'Ankabut: 2, yang terjemahannya : "Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi ?"
Kedua, Musibah sebagai PERINGATAN, yaitu musibah yang menimpa orang-orang baik tapi terkadang masih suka lalai. Musibah tersebut sebagai peringatan agar dia tidak lagi lalai, sehingga kembali ke jalan yang semestinya. Ini yang difirmankan Allah SWT dalam QS.30.Ar-Ruum : 41 yang terjemahannya: "... supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)."
Jika dia sadar dan insaf serta tetap sabar, maka musibah tersebut bisa menjadi penghapus kesalahan dan pengampun dosanya. Setiap musibah yang menimpa seorang muslim memang bisa menghapus kesalahannya, sebagaimana hadits muttafaqun 'alaihi yang diriwayatkan Bukhari rhm dan Muslim yang bersumber dari Abu Sa'id Al-Khudri ra dan Abu Hurairah ra, bahwa Nabi SAW bersabda: "Tidaklah seorang muslim ditimpa musibah berupa lelah, sakit, keresahan, kesedihan, penderitaan, kegalauan, hingga sebuah duri menusuknya, melainkan Allah menghapus dengannya (musibah tersebut) daripada kesalahan-kesalahannya."
Ketiga, Musibah sebagai AZAB, yaitu musibah yang menimpa orang-orang durhaka seperti orang kafir, musyrik, murtad, fasiq, munafiq, zalim dan Ahli Ma'siat. Musibah tersebut adalah siksa yang didahulukan di dunia, dan azab akhirat yang disiapkan jauh lebih pedih lagi. Firman Allah SWT dalam QS.39.Az-Zumar : 26 menyatakan: "Maka Allah merasakan kepada mereka kehinaan pada kehidupan dunia. Dan sesungguhnya azab pada hari akhirat lebih besar kalau mereka mengetahui."
Pada hakikatnya, macam musibah yang menimpa suatu negeri sama dengan macam musibah yang menimpa orang per orang. Artinya, jika musibah menimpa suatu negeri yang penduduknya beriman dan bertaqwa, maka musibah itu adalah UJIAN. Sedang musibah yang menimpa suatu negeri muslim yang terkadang masih lalai dari kewajiban, maka musibah itu adalah PERINGATAN. Ada pun musibah yang menimpa suatu negeri kafir atau negeri yang bergelimang dengan ma'siat dan kezaliman, maka bisa dipastikan bahwa musibah itu adalah AZAB. Na'udzu billaahi min dzaalik.
MUSIBAH ITU UMUM
Terlepas dari Hakikat Musibah yang bisa berupa Ujian dan Peringatan mau pun Azab, maka yang jelas musibah jika datang bersifat umum. Artinya, jika musibah datang maka semua pihak akan terkena, baik yang soleh mau pun tidak, bahkan bayi tidak berdosa pun ikut terkena menjadi korban. Itulah karenanya Allah SWT telah beri peringatan dalam QS.8.Al-Anfaal : 25 melalui firman-Nya yang terjemahannya: "Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaannya."
Dan dalam kitab Misykaatul Mashoobiih juz 3 bab 22 pasal 2 Hadits ke-5.147 bersumber dari 'Umairoh Al-Kindiy ra bahwa Rasulullah SAW bersabda : "Sesungguhnya Allah SWT tidak mengazab umumnya manusia hanya karena perbuatan khusus sebagian mereka, sehingga mereka melihat kemunkaran di tengah mereka dan mereka mampu untuk menentangnya, namun mereka tidak menentangnya. Jika sudah demikian yang mereka perbuat maka Allah mengazab yang umum dan khusus dari mereka."
Lalu dalam Musnad Imam Ahmad dan Jami' Imam At-Tirmidzi serta Sunan Ibnu Majah diriwayatkan sebuah hadits bahwa Abu Bakar Ash-Shiddiq ra pernah berkata : "Wahai manusia, sesungguhnya engkau sekalian membaca ayat ini dan engkau menta'wilkannya bertentangan dengan ta'wil yang sebenarnya - lalu ia membaca QS.5.Al-Maa-idah: 195 ("Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu. Tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk") - Sesungguhnya aku telah mendengar Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya manusia jika mereka melihat orang yang berbuat  zalim dan tidak mencegahnya, maka sudah dekat Allah meratakan mereka semua dengan siksa dari-Nya."
KESOLEHAN PRIBADI TIDAK CEGAH MUSIBAH
Sebuah hadits muttafaqun 'alaihi yang diriwayatkan Bukhari rhm dan Muslim rhm yang bersumber dari Ummul Mu'minin, Zainab binti Jahsy ra, menceritakan tentang berita akan datangnya bahaya bagi umat manusia, lalu Zainab ra bertanya kepada Nabi SAW: "Wahai Rasulullah, mungkinkah kami binasa padahal di tengah-tengah kami masih ada orang-orang yang soleh ?" Rasulullah SAW pun menjawab: "Ya, apabila kebejatan sudah merajalela."
Dalam kitab Misykaatul Mashoobiih juz 3 bab 22 pasal 3 Hadits ke-5.152 bersumber dari Jabir bin Abdullah ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda: "Allah 'Azza wa Jalla mewahyukan kepada Jibril as : "Goncangkanlah kota ini dan kota itu bersama penghuninya !" Jibril as pun berkata : "Wahai Tuhanku, sesungguhnya di tengah-tengah mereka ada hamba-Mu si fulan yang tidak pernah ma'siat kepada-Mu sesaat pun juga." Rasulullah SAW melanjutkan: "Allah berfirman : "Sesungguhnya wajahnya (si hamba yang soleh itu) tidak pernah berubah terhadap-Ku (tidak marah melihat kema'siatan) sesaat pun juga."
Dua hadits di atas dengan secara gamblang dan jelas menerangkan bahwa kesalehan pribadi tidak akan mampu mencegah datangnya musibah, jika kesalehan pribadi tersebut tidak mampu mencegah kemunkaran dan kema'siatan sehingga merajalela.
HISBAH CEGAH MUSIBAH
Hisbah adalah Amar Ma'ruf Nahi Munkar, yaitu menyerukan kema'rufan dan mencegah kemunkaran. Hisbah merupakan Pintu Gerbang Keberuntungan dan Ciri umat yang terbaik serta Sendi Pembangunan Akhlaq Sholihah (QS.3.Aali 'Imraan : 104, 110 dan 114). Hisbah juga merupakan Tugas Mulia Para Nabi (QS.7.Al-A'raaf : 157), Penyebab Turunnya Rahmat (QS.9.At-Taubah : 71), Sifat Mu'min (QS.22.Al-Hajj : 41), dan Kewajiban dari Allah SWT (QS.31.Luqmaan : 17).
Dalam hadits banyak disebutkan tentang peran Hisbah sebagai jalan keselamatan dari musibah, antara lain: Pertama, dalam Jami' Imam At-Tirmidzi rhm, kitab Al-Fitan, Bab Amar Ma'ruf Nahi Munkar, hadits ke-9, bersumber dari Hudzaifah ibnul Yaman ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda: "Demi yang jiwaku ada di tangan (kekuasaan) -Nya, hendaklah engkau sungguh-sungguh menyerukan kema'rufan dan mencegah kemunkaran, atau niscaya Allah akan benar-benar mengirim atasmu sekalian siksa dari-Nya. Kemudian engkau berdoa kepada-Nya dan Dia tidak mengabulkannya."
Kedua, dalam kitab Al-Fathur Robbani yang merupakan susunan sistematis dari Musnad Imam Ahmad juz 19 hal 177 ada sebuah Hadits Qudsi yang diriwayatkan oleh Siti Aisyah ra, bahwa Nabi SAW bersabda: "Wahai manusia, sesungguhnya Allah 'Azza wa Jalla berfirman: "Serulanlah kema'rufan dan cegahlah kemunkaran, sebelum engkau semua berdoa kepada-Ku namun Aku tidak mengabulkannya, dan sebelum engkau semua meminta kepada-Ku namun Aku tidak memberikannya, serta sebelum engkau semua mohon pertolongan-Ku namun Aku tidak menolong engkau sekalian."
JAKARTA, MA'SIAT DAN MUSIBAH
Cap Jakarta sebagai Serambi Ma'siat Indonesia tampaknya bukan sekedar tuduhan tanpa bukti. Aneka macam kemunkaran di Jakarta dengan mudah didapatkan, karena disuguhkan secara frontal, demonstratif dan tanpa punya rasa malu. Tentu saja, bukan maksud tulisan ini untuk memojokkan Pemda DKI Jakarta, tapi untuk menyadarkan mereka dan kita semua agar ke depan tidak mengulangi kesalahan serupa.
Di malam tahun baru 2013 M, Jakarta menyuguhkan FESTIVAL MA'SIAT di sepanjang Jalan Protokol Sudirman - Thamrin hingga Istana dan Monas sebagai jantung ibu kota. Belasan panggung hiburan yang sarat dengan kemunkaran ditampilkan atas nama "PESTA RAKYAT". Pesta kembang api yang bernilai milyaran rupiah dipertontonkan sahut menyahut selama berjam-jam mulai dari tengah malam hingga pagi dini hari. Hujan yang mengguyur Jakarta tidak dipedulikan, pejabat dan rakyat yang mengaku beragama "Islam" basah-basahan hanya untuk memeriahkan Tahun Baru Masehi yang merupakan satu rangkaian dengan peringatan Natal.
Ironis ! Untuk sebuah peringatan Maulid Nabi SAW yang menutup jalan raya biasa, terkadang hanya menutup sebuah jalan MHT, sering dipersulit dan selalu dikecam berbagai pihak dengan dalih mengganggu lalu lintas warga. Bahkan mulai ada usulan konyol "Fatwa MUI DKI" untuk melarang itu semua. Tapi, menutup jalan raya protokol utama, jantung ibu kota Jakarta, untuk pesta ma'siat, didukung dan dibesar-besarkan, bahkan dibiayai Pemda DKI Jakarta di bawah pimpinan Jokowi - Ahok. Dan semua media ikut mempromosikan serta mempublikasikan Festival Ma'siat tersebut secara nasional. Luar Biasa !!!
Kini, setelah "langit" diserang kembang api Jokowi - Ahok, maka langit pun menyerang balik dengan curah hujan yang merendam, bahkan hampir menenggelamkan seluruh ibu kota. Bayangkan jika "Langit" menyerang balik dengan kembang api serupa. Bersyukurlah, serangan balik "Langit" hanya berupa hujan yang mengakibatkan banjir. Musibah banjir telah mengakibatkan sejumlah nyawa melayang, harta benda banyak musnah, kerugian ada di seluruh penjuru Jakarta. Jokowi - Ahok telah membeli musibah dengan ma'siat,   itulah prestasi 100 hari pertama kinerja mereka.
Orang tak beriman akan menampik keterkaitan musibah banjir Jakarta dengan kema'siatan yang ada di Jakarta itu sendiri, apalagi jika dikaitkan dengan kema'siatan Jokowi - Ahok sebagai pemimpinnya. Mereka menganggap hal tersebut mengada-ada atau sudah dipolitisasi. Namun bagi orang yang beriman, Ahok yang non muslim menjadi pemimpin umat Islam Jakarta sudah merupakan ma'siat besar, sekaligus sudah menjadi musibah tersendiri. Ke depan entah musibah apa lagi yang akan diundang. Wallaahu A'lam.
ALLAH SWT TIDAK ZHALIM
Kenapa dan bagaimana serta apa pun jenis musibah yang menimpa siapa pun, maka yang jelas Allah SWT tidak zalim. Allah SWT Maha Adil dan Maha Arif lagi Maha Bijaksana. Dalam QS.9. At-Taubah : 70 dan QS.29.Al-'Ankabuut: 40 serta QS.30.Ar-Ruum : 30, Allah SWT menyatakan yang terjemahannya: "Maka Allah sekali-kali tidak berlaku zalim kepada mereka, akan tetapi merekalah yang berlaku zalim kepada diri sendiri”.
Semoga Allah SWT senantiasa memaafkan segala kesalahan kita dan mengampuni segala dosa kita. Semoga musibah yang kita terima selama ini merupakan ujian, sekurangnya merupakan peringatan, dan bukan azab yang didahulukan. Semoga ke depan kita semua dijadikan Allah SWT sebagai hamba-hambanya yang beriman dan bertaqwa. Aamiiin.
Penulis: Habib Muhammad Rizieq Syihab, MA


Sumber : Suara-Islam.COM